Resensi : Rindu

Judul                       :  Rindu
Penulis                     : Tere Liye
Penerbit                   : Republika
Jumlah Halaman    : 544
Panjang                    : 20 cm
Lebar                        : 13.5 cm
Cetakan                    : XLV
Tanggal Terbit         : Mei - 2017
Kategori                   : Novel


Novel ini mengisahkan tentang perjalanan ibadah haji dari Nusantara menuju Jeddah menggunakan kapal uap Belanda yang bernama Blitar Holland. Perjalanan tersebut dimulai dari Makasar dan berlanjut ke kota-kota lain di Nusantara yaitu Surabaya, Semarang, Batavia, Lampung, Bengkulu, Padang, dan Banda Aceh, hingga menuju ke Jeddah pada tahun 1938. Awalnya mungkin terdengar membosankan. Apa yang menarik dari kisah perjalanan haji menggunakan kapal laut yang pada waktu itu menghabiskan waktu 9 bulan perjalanan hingga kembali ke nusantara lagi? Pada tahun 1938 pula? Ketika sudah mulai membacanya, anggapan itu pelan-pelan hilang. Penulis mengemasnya dengan sangat menarik, jauh dari membosankan karena hampir di tiap bab ada kejutan.

Banyak tokoh yang diceritakan dalam novel. Tetapi sebagian besar tokoh utama dalam novel merupakan penumpang kapal yang berangkat dari kota Makasar. Mereka adalah Gurutta (panggilan untuk seorang ulama dan guru yang dimuliakan) Ahmad Karaeng, Daeng Andipati dan keluarganya, Ambo Uleng, Bonda (Bibi) Upe, dan ada seorang lagi dari Semarang, yaitu sosok Mbah Kakung Slamet yang sudah berusia lanjut (80 tahun). Ketika seluruh penumpang dari Makasar hingga Banda Aceh sudah naik kapal, Blitar Holland bisa dibilang menyerupai miniatur Nusantara yang berisi berbagai suku dan ras dengan dialek dan bahasa daerahnya yang khas. Momen yang memperlihatkan keragaman itu paling terasa ketika penumpang berkumpul di kantin kapal pada setiap jam makan.

Atmosfir perjalanan menuju Jeddah yang sangat hangat dan kekeluargaan membuat hati damai sekali membacanya. Seolah pembaca ingin ikut dalam perjalanan dan bertemu langsung dengan tokoh-tokoh yang sangat bijaksana tersebut. Selain para tokoh pribumi (inlander), tokoh-tokoh berkebangsaan Belanda yang terdiri dari kapten kapal, kepala koki (chef) dan para kelasi kapal juga tidak kalah bijaksana dan sangat bersahabat dengan para tokoh inlander. Mereka juga sangat menghormati hak-hak asasi manusia tanpa memandang SARA. Prinsip mereka sebagai pelaut, tiap orang yang berlayar diatas kapal adalah orang yang bebas dan merdeka. Terlebih kapal Blitar Holland adalah kapal sipil yang mengangkut penumpang untuk menunaikan ibadah haji, bukan kapal perang. Tetapi dalam tiap pelayaran kapal Belanda pada waktu itu, diwajibkan untuk dijaga atau diawasi oleh satu pleton tentara Belanda yang ikut serta sepanjang perjalanan. Dan sayang sekali pemimpin pleton tentara pengawas perjalanan tersebut, Sergeant Lucas adalah orang yang sangat waspada terhadap gerakan pemberontakan kemerdekaan RI oleh inlander. Selain itu Sergeant Lucas sangat mencurigai Gurutta Ahmad Karaeng sebagai ulama yang ikut menyebarkan paham kemerdekaan yang dianggap berbahaya. Sergeant Lucas inilah yang nantinya akan menyebabkan beberapa konflik sepanjang perjalanan.

Novel ini juga membawa lima nilai kehidupan dan agama yang ditempelkan dalam kisah kelima tokoh utama. Nilai tersebut di deskripsikan dalam pertanyaan-pertanyaan berbeda dari kelima tokoh tersebut. Pada dasarnya pertanyaan utama dari kelima tokoh tersebut adalah "Apakah kebahagiaan sejati itu?" Pertanyaan sederhana tapi bermakna sangat dalam. Kalau dimaknai sederhana, maka dengan mudah dijawab dengan deskripsi kebahagiaan yang sederhana pula dari tiap orang yang berbeda. Tapi jika tiap orang memiliki masalahnya sendiri, deskripsi kebahagiaan tentu tidak sesederhana itu.

Pertanyaan pertama datang dari Bonda Upe, wanita berusia empat puluh tahun, keturunan Cina Islam. Ia memiliki masa lalu yang kelam, yang membuat ia malu pada dirinya sendiri dan belum dapat menerima masa lalunya. Ia terpaksa menjadi cabo (pelacur) di Batavia selama 15 tahun karena dipertaruhkan ayahnya yang kalah berjudi. Bagaimana bersikap dan menghadapi masa lalu yang kelam tersebut? Apakah Allah akan mengampuni dosanya selama itu? Apakah taubatnya diterima?

Pertanyaan kedua datang dari Daeng Andipati. Daeng Andipati merupakan pebisnis sukses, lulusan  Rotterdam School of Commerce, universitas terpandang di Belanda pada waktu itu yang terkenal dengan mahasiswanya yang pintar-pintar, dimana penduduk Belanda sendiri tidak mudah untuk menjadi mahasiswa di universitas tersebut. Daeng Andipati memiliki keluarga yang sangat harmonis, dengan istri yang cantik, dua orang putri yang cantik dan cerdas. Hidupnya bisa dibilang sempurna. Dibalik sempurnanya kehidupan Daeng Andipati yang digambarkan dalam novel, ternyata ia memiliki masa lalu yang tidak kalah kelamnya dengan Bonda Upe, sehingga membuatnya memiliki kebencian yang sangat besar dalam hatinya, kebencian yang semakin bertambah tahun demi tahun selama hidupnya. Sayang sekali kebencian tersebut adalah kebencian kepada ayahnya sendiri. Menghilangkan kebencian yang teramat dalam dan memaafkan almarhum ayahnya bukanlah sesuatu yang mudah baginya.

Pertanyaan ketiga datang dari Mbah Kakung Slamet. Mbah Kakung Slamet berangkat menumpang Blitar Holland bersama istrinya yang juga berusia 80 tahun dan putri sulung mereka yang berusia sekitar 50 tahun. Kisah mbah kakung Slamet dan mbah putri Slamet ini salah satu kisah yang sukses membuat mata berkaca-kaca. Kisah hidup mereka mengalahkan kisah Romeo dan Juliet, dan sudah terbukti hingga usia lanjut. Tetapi dalam perjalanan menuju Kolombo, Sri Lanka, tanpa disangka mbah putri Slamet meninggal dunia. Mengingat masih lamanya perjalanan menuju daratan, maka pemakaman dilakukan dengan tata cara pemakaman di atas laut, yaitu dengan menenggelamkan jenazah ke dasar laut. Jenazah yang sudah dibungkus kain kafan diberi bandul-bandul pemberat kemudian dijatuhkan ke laut. Meninggalnya mbah putri secara tiba-tiba dan berada di tengah lautan luas membuat mbah kakung amat sedih dan sulit mengikhlaskan. Bukan perihal datangnya kematian, tapi kenapa di waktu dan tempat itu? Mengapa ia tidak dapat bersanding di sebelah pusara istrinya nanti?  Padahal ia berharap entah siapa yang dipanggil terlebih dahulu, makam mereka kelak bisa bersebelahan. Mereka juga sudah menabung bersama selama bertahun-tahun lamanya untuk dapat menunaikan ibadah haji bersama, mengapa istrinya tidak dapat melihat kabah walau hanya sebentar? Kesedihan mbah kakung yang membuat selera makannya hilang membuat penumpang kapal lainnya ikut khawatir.

Pertanyaan keempat datang dari Ambo Uleng. Jika membaca kisah Ambo Uleng, jadi langsung teringat lagu "Nenek moyangku seorang pelaut, gemar mengarung luas samudera...". Ambo Uleng merupakan sosok pelaut sejati dari suku Bugis. Sejak dalam kandungan ia sudah melaut. Selama hidupnya hanya selama 3 tahun ia hidup lama di daratan, selebihnya ia habiskan di laut. Kecakapan dan ketangkasannya sebagai seorang pelaut sudah teruji dan tidak diragukan lagi. Ia berada di kapal Blitar Holland bukan sebagai penumpang yang akan berangkat haji, tetapi sebagai kelasi kapal baru yang di rekrut oleh kapten kapal di Makasar sebelum kapal berangkat. Keinginannya bekerja di Blitar Holland hanya satu, yaitu pergi sejauh mungkin. Kakek Gurutta bilang "Seseorang yang lari dari sesuatu tidak selalu karena ketakutan atau ancaman, bisa juga karena kebencian, kesedihan atau harapan". Ambo Uleng pergi karena kesedihan. Hatinya sesak dan gundah. Tetapi, sejauh apapun ia pergi, tidak menghilangkan rasa sesak itu. Yes, ia patah hati akut! Serangan patah hati yang hebat itu bisa mempengaruhi pemuda yang rajin, tangkas dan cakap bekerja ini, sampai ia tidak tidur selama beberapa hari karena gundah. Kisah cintanya sangat menarik, mungkin beberapa orang mengalami hal yang serupa dengan Ambo Uleng. Seperti banyak pertanyaan tentang cinta, beberapa pertanyaan dalam kisah Ambo yaitu: apakah cinta sejati itu? apakah besok lusa kau berjodoh dengannya? apakah kau  masih memiliki kesempatan?

Dan pertanyaan kelima justru datang dari Gurutta Ahmad Karaeng yang sangat bijaksana. Dari keempat pertanyaan sebelumnya yang bisa dijawab oleh Kakek Gurutta, ia menyimpan pertanyaan untuk dirinya sendiri yang jawabannya tidak dapat ia temukan. Jawaban dari pertanyaan tersebut muncul dalam dialognya dengan Ambo Uleng dalam perjalanan dari Kolombo menuju Jeddah dalam menghadapi perompak Somalia. Bagian pembajakan kapal ini termasuk salah satu konflik paling seru. Inti dari pertanyaan tersebut kurang lebih adalah: bisakah meraih kebebasan dan kemerdekaan tanpa perlawanan fisik? 

Selain kelima hal diatas, novel ini juga cocok dibaca pada momen kemerdekaan. Dalam novel juga sarat akan momen perjuangan kemerdekaan dan perlawanan terhadap penjajahan Belanda yang dilakukan oleh banyak pejuang di banyak daerah di Nusantara. Tokoh-tokoh penting dalam novel juga merupakan tokoh pergerakan kemerdekaan. Tokoh lain yang ikut dalam rombongan penumpang dari Surabaya diceritakan sebagai tokoh pendidik dan pergerakan kemerdekaan, yaitu Bapak Soerjaningrat (dikenal dengan nama Ki Hajar Dewantara) dan Bapak Mangoenkoesoemo. Ki Hajar Dewantara dan Mangoenkoesoemo bersama dengan Ernest Douwes Dekker dikenal sebagai "Tiga Serangkai" yang banyak menyebarluaskan ide pemerintahan sendiri dan kritis terhadap pemerintahan penjajahan Hindia Belanda. Dalam novel dikisahkan jika mereka berdua bergantian mengajar anak-anak yang ikut dalam rombongan haji bersama orang tuanya. Di salah satu satu dialog chef kapal dengan Bapak Mangoenkoesoemo, penulis juga menekankan pujian dari chef berkebangsaan Belanda tersebut kepada Bapak Mangoenkoesoemo, "Jika guru-guru di sekolah kalian seperti Anda, besok lusa bangsa kalian akan menjadi bangsa yang besar dan kuat".

Rombongan kesultanan Ternate yang ikut menumpang kapal dari Makasar juga diceritakan sebagai rombongan yang dengan keras melawan penjajahan Belanda dan dikenal memiliki fisik yang tangguh dan terlatih. Selain itu, tentu Gurutta Ahmad Karaeng juga termasuk salah satunya. Dalam novel diceritakan bahwa Gurutta melakukan perlawanan menyebarluaskan semangat kemerdekaan dengan jalan dakwah. Dalam perjalanan berangkat menuju Jeddah, Gurutta menyelesaikan satu buku yang ditulisnya, berjudul "Kemerdekaan Adalah Hak Segala Bangsa". 

Lantas mengapa novel ini berjudul "Rindu"? Penulis menyebut perjalanan menunaikan ibadah haji merupakan perjalanan penuh kerinduan. Perjalanan merindukan tanah suci. 

Jadi, tidak salah jika novel best seller ini mencapai cetakan ke-65 pada bulan Mei 2017, dengan cerita sebagus ini sudah pasti jumlah cetakannya akan terus bertambah.😊

Comments