Dalam artikel ini saya akan membagi sedikit pengetahuan saya mengenai perancangan use case diagram yang saya dapatkan selama kuliah. Selain penjelasan elemen use case, penjelasan lainnya berasal dari catatan kuliah yang bersumber dari slide presentasi dan penjelasan dosen. Saya belum bisa menuliskan beberapa sumber pustaka dari buku yang akurat untuk sementara, tapi insyaallah penjelasan yang saya tulis sudah sesuai dengan konsep use case diagram. Semoga contoh studi kasus dan use case yang saya tulis berikut dapat membantu pemahaman pembaca sekalian mengenai use case diagram.
1. Pengertian Use Case Diagram
- Use case diagram merupakan model untuk menggambarkan perilaku sistem yang akan dikembangkan.
- Use case dalam use case diagram menggambarkan aktivitas aktor (user) terhadap sistem.
- Use case diagram tidak menggambarkan struktur menu dalam sistem yang akan dikembangkan.
- Perancangan use case diagram masuk dalam tahap rekayasa persyaratan (requirement engineering) dalam fase RPL, bukan di tahap desain.
- Setiap use case (aktivitas) dalam use case diagram harus dilengkapi dengan skenario use case, yaitu deskripsi mengenai aktivitas tersebut.
- Langkah-langkah untuk merancang use case diagram dimulai dari mendefinisikan aktor-aktor yang terlibat dalam sistem yang akan dikembangkan, kemudian mengidentifikasi use case (aktifitas-aktifitas) dari tiap aktor.
Elemen-elemen dalam use case diagram antara lain sebagai berikut:
sumber: S, Rosa A. dan M. Salahuddin (2013)
3. Contoh Use Case Diagram
Contoh studi kasusnya adalah sistem informasi akademik mahasiswa, dimana terdapat dua aktor yang dapat megakses sistem tersebut yaitu petugas administrasi akademik sebagai administrator dan mahasiswa.
Petugas akademik (administrator) dapat melakukan beberapa hal berikut:
1. Mengelola data diri mahasiswa1.1. Melihat data diri mahasiswa
1.2. Menginput data diri mahasiswa
1.3. Mengubah data diri mahasiswa
1.4. Menghapus data diri mahasiswa
1.5. Mencetak data diri mahasiswa
2. Mengelola KHS mahasiswa
2.1. Melihat KHS mahasiswa
2.2. Menginput KHS mahasiswa
2.2. Mengubah KHS mahasiswa
2.3. Menghapus KHS mahasiswa
2.4. Mencetak KHS mahasiswa
3. Mengelola KRS mahasiswa
3.1. Melihat KRS mahasiswa
3.2. Menginput KRS mahasiswa
3.3. Mengubah KRS mahasiswa
3.4. Menghapus KRS mahasiswa
3.5. Mencetak KRS mahasiswa
4. Mengelola daftar kehadiran mahasiswa
4.1. Melihat daftar kehadiran mahasiswa
4.2. Menginput data absensi dan kehadiran mahasiswa
4.3. Mengubah data absensi dan kehadiran mahasiswa
4.4. Menghapus data absensi dan kehadiran mahasiswa
4.5. Mencetak daftar kehadiran mahasiswa
5. Mengelola kuesioner dosen untuk mahasiswa
5.1. Menginput data kuesioner
5.2. Melihat data kuesioner
5.3. Mengubah data kuesioner
5.4. Menghapus data kuesioner
5.5. Mencetak data kuesioner
5.6. Melihat hasil kuesioner
5.7. Mencetak hasil kuesioner6. Mengelola jadwal ujian mahasiswa
6.1. Melihat jadwal ujian mahasiswa
6.2. Menginput jadwal ujian
6.3. Mengubah jadwal ujian
6.4. Menghapus jadwal ujian
6.5. Mencetak jadwal ujian
Teks yang diberi highlighter biru merupakan aktivitas administrator yang tidak ada di daftar aktivitas mahasiswa.
Mahasiswa dapat melakukan beberapa hal berikut:
1. Melihat data diri
2. Mengubah data diri
3. Mencetak data diri
4. Melihat jadwal kuliah
5. Mencetak jadwal kuliah
6. Melihat mata kuliah
7. Menginput KRS
8. Melihat KRS
9. Megubah KRS
10. Mencetak KRS
11. Melihat nilai (KHS)
12. Mencetak kartu hasil studi
13. Melihat rekap daftar kehadiran
14. Mencetak rekap daftar kehadiran
15. Melihat jadwal ujian
16. Mencetak jadwal ujian
17. Mengisi kuesioner
Use case diagram
Berikut use case diagram dari sistem informasi akademik mahasiswa berdasarkan daftar aktivitas kedua aktor tersebut diatas.
Kalau diperhatikan, use case milik (aktor) mahasiswa sudah sesuai dengan daftar aktivitas yang sudah ditulis sebelumnya. Tetapi, untuk use case milik administrator tidak menuliskan semua daftar aktivitas seperti yang ditulis. Mengapa demikian? Dalam use case diagram jika beberapa aktor memiliki aktivitas yang sama, maka tidak perlu menuliskan use case yang sama juga untuk aktor yang lain. Setelah use case yang menggambarkan aktivitas yang sama digambar pada salah satu aktor, maka cukup dengan menarik garis generalisasi menuju ke aktor yang memiliki aktivitas yang sama.
Dalam studi kasus diatas, administrator juga dapat melakukan semua aktivitas yang dilakukan oleh mahasiswa. Jadi, cukup dengan menggambar use case yang tidak dilakukan oleh mahasiswa pada aktor administrator, kemudian menggunakan garis generalisasi dari administrator menuju ke mahasiswa untuk mendeskripsikan bahwa semua aktivitas yang dilakukan oleh mahasiswa juga dapat dilakukan oleh administrator. Tetapi mahasiswa tetap tidak memiliki aktivitas seperti administrator.
Hindari membuat use case seperti berikut:
Konsep penggunaan extend dalam contoh diatas kurang tepat untuk menggambar diagram use case sesuai studi kasus diatas. Karena tiap aktivitas dalam use case harus digambarkan sedetail mungkin, bukan menyerupai struktur menu. Selain itu, kata kerja "mengelola" masih kurang jelas jenis aktivitasnya, akan lebih sulit dideskripsikan dalam skenario use case.
Penggunaan extend dalam diagram use case lebih tepat misalnya dalam contoh kasus yang digambar dalam use case berikut.
- Kemudian jangan lupa untuk meletakkan use case diagram dalam kotak pembatas. Kotak tersebut merupakan gambaran dari sistem.
- Dalam sebuah use case diagram tidak harus selalu menggunakan semua elemen use case, tetapi sesuai dengan kebutuhan dan studi kasus yang ada.
Skenario use case digambarkan per use case yang digambar dalam diagram. Skenario use case memiliki komponen-komponen: nama use case, tujuan (objective), aktor (actor), kondisi awal (pre-condition), skenario utama (main flow), skenario alternatif (alternative flows), dan kondisi akhir (post condition).
Berikut contoh skenario use case "melihat data diri mahasiswa".
Daftar Pustaka
Rosa, AS dan Salahuddin, M. 2013. Rekayasa Perangkat Lunak. Bandung: Informatika.
Rosa, AS dan Salahuddin, M. 2013. Rekayasa Perangkat Lunak. Bandung: Informatika.





Comments