Perubahan Berawal dari Diri Sendiri

Beberapa hari lalu saya menemukan post yang menarik di Google+. Post tentang "Pengakuan Jujur Anak Malaysia Terhadap Indonesia". Tentu saja post tersebut ramai mendapatkan tanggapan menarik. Dan lebih menarik lagi ketika ada warga negara lain yang ikut menyumbangkan komentarnya. Sebelum membahasnya lebih jauh, artikel ini tidak bermaksud menyinggung, atau menyudutkan pihak manapun. Melalui artikel ini saya hanya ingin berbagi pendapat saya serta hal-hal menarik yang saya amati dari berbagai tanggapan terhadap post ini.


Amat banyak kelebihan yang Indonesia miliki lebih dari sekedar hal-hal yang dituliskan dalam "pengakuan" diatas. Saya tertarik untuk ikut nimbrung karena ada beberapa orang yang membuat saya dan beberapa orang Indonesia lainnya geram. Geram karena komentar-komentar negatif yang  menghina negara.

Banyak hal yang saya dapatkan dari komentar-komentar di post tersebut. Hal pertama adalah kekecewaan saya kepada beberapa orang Indonesia di forum itu. Sangat disayangkan banyak orang Indonesia yang tidak paham sejarah bangsanya sendiri, dan banyak menelan mentah-mentah informasi di media tentang segala urusan pemerintahan saat ini tanpa disaring dahulu dan di cek kebenarannya. Sehingga muncullah komentar-komentar yang malah menjatuhkan martabat negara. Terlebih lagi ada warga negara lain di forum... Bagi saya, tidak peduli seberapa buruk keadaan bangsa dan negara, kita wajib membela harkat dan martabatnya setinggi mungkin...

"Tidak peduli seberapa buruk keadaan bangsa dan negara, kita wajib membela harkat dan martabatnya setinggi mungkin."

Jika berkali-kali kita di hina dan direndahkan, apakah kita akan diam saja? Pembelaan atas semua komentar yang negatif adalah hal yang wajar setelah semua hal yang dilakukan Malaysia terhadap Indonesia. Hal yang melegakan di forum tersebut adalah banyak orang Indonesia yang tidak diragukan lagi nasionalismenya.

Beberapa komentar dari komentar-komentar negatif dalam forum tersebut sebenarnya merupakan lecutan bagi bangsa ini untuk segera melakukan "perubahan". Rasanya seperti tersentak ketika warga negara lain mengatakan orang Indonesia rakus, "tidak membuang sampah pada tempatnya", dan miskin.

Dari komentar yang di lontarkan, maksud rakus karena banyak sekali praktek korupsi  yang terjadi di negara ini. Dan miskin karena banyak rakyat miskin... Bersamaan dengan musibah banjir yang sedang terjadi dimana-mana yang diakibatkan perlakuan masyarakat terhadap lingkungan yang buruk ini, seorang komentator yang merupakan warga negara lain itu bahkan memberikan nasihatnya agar kita saling bergotong royong dan membuang sampah pada tempatnya. Komentar yang tidak bisa disangkal bukan?

Komentar berupa nasihat untuk membuang sampah tersebut agak menggelikan bagi saya. Tapi 100% tidak salah. Setelah mencermati komentar-komentar satu per satu saya merenung... Pembelaan saudara-saudara setanah air dalam forum itu sangat baik. Saya pun sempat larut dalam emosi karena komentar-komentar negatif...

Saudara-saudara setanah air yang ikut berkomentar tentu tidak melakukan korupsi seperti para pejabat, mereka juga tidak miskin. Rasa nasionalisme dalam forum itu sudah tidak diragukan lagi. Tapi, tidak ada satupun yang menaggapi sindiran agar "membuang sampah pada tempatnya".
Ah! Betapa menyedihkan. "Hanya hal kecil seperti membuang sampah saja kita tidak bisa?"
"Dengan semua kelebihan Indonesia yang disebutkan di atas, tapi untuk membuang sampah saja kita malas?" Sampai-sampai Jakarta terkenal banyak sampah, setelah musibah banjir besar yang melanda.

Saya kira, jika kita mencintai Bangsa dan Negara, membuang sampah dengan cara yang benar adalah hal paling kecil yang dapat kita lakukan sebagai perwujudan rasa "nasionalisme". Yah, saya juga sangat menyadari, budaya membuang sampah sembarangan sudah mengendap di "alam bawah sadar" mayoritas masyarakat Indonesia. Saya banyak mengenal orang-orang baik, bahkan sangat baik. Tetapi, ketika membuang sampah bukan di tempatnya mereka tidak menyadari bahwa hal tersebut keliru. Sebetulnya sudah banyak orang-orang yang menyadari, tetapi tidak peduli, karena menurut mereka membuang sampah hanya hal sepele.

"Jika kita mencintai Bangsa dan Negara, membuang sampah dengan cara yang benar adalah hal paling kecil yang dapat kita lakukan sebagai perwujudan rasa nasionalisme."

Perwujudan kecil lainnya dari bentuk nasionalisme adalah dengan mempelajari sejarah Bangsa dan Negaranya sendiri. Mempelajari sejarah berarti mengenal Bangsa dan Negaranya. Saya bengong melihat komentar yang kurang lebih menyatakan kalau Indonesia dan Malaysia serumpun, tetapi sedikit-sedikit ribut seperti anjing dan kucing, apakah disebabkan sejarah masa lampau, atau entahlah... Hah? Jika saja di forum itu tidak ada warga negara lain, ingin rasanya berkomentar "Atas semua yang telah dilakukan Malaysia, dan Indonesia tidak melakukan pembalasan atas hal tersebut. Hanya seperti itukah tanggapan anda? Seperti anjing dan kucing? Dari jaman pemerintahan Presiden Soekarno kita sudah di bully, bahkan Presiden Soekarno sampai menyatakan mundur dari PBB, dan menyerukan "Ganyang Malaysia". Kalau hanya persoalan sepele, kenapa sampai seperti itu? Plis mbak belajarlah sejarah!". Paling tidak jangan tampilkan ketidaktahuan tentang sejarah bangsa sendiri di forum seperti itu. Indonesia dan Malaysia bukanlah serumpun, Indonesia terdiri dari berbagai etnis dan suku. Suku Melayu di Indonesia ada di beberapa wilayah Sumatera dan Kalimantan Barat. Oleh karena itu tidak tepat apabila dikatakan bangsa Indonesia serumpun dengan Malaysia.

Komentar-komentar lain yang amat disayangkan adalah hujatan kepada pemerintah di forum itu. Tidak hanya bengong dan geleng-geleng kepala. Sampai miris membacanya.... Untuk mengkritik pemerintah kita memerlukan wawasan luas atas permasalahan dan kebijakan yang di ambil. Paling tidak jangan menelan mentah-mentah pemberitaan dari pernyataan politisi... Lihatlah sejarah pemerintahan sebelumnya, cek kebenaran tiap-tiap pemberitaan yang ada, barulah membuat kesimpulan dan pernyataan di komentar seperti itu. Terlebih lagi forum tersebut bukan untuk mengeluhkan ketidakpuasan kepada pemerintah!

Indonesia memang perlu banyak sekali berbenah. Hujatan-hujatan kepada pemerintah tidak menyumbang apa pun untuk membangun negeri tercinta ini. Perubahan berasal dari kualitas Sumber Daya Manusia yang ada. Sebagai generasi penerus kita tunjukkan kalau kita siap menjadi warga negara yang baik, produktif, cakap, sehingga bisa memajukan negara. Memberikan sumbangsih kepada negeri jauh lebih baik daripada "menghujat" tanpa memberikan solusi. Semua perubahan berawal dari diri sendiri dan dimulai dari hal yang paling sederhana.


Untuk menambah pemahaman mengenai anggapan "serumpun" Indonesia dan Malaysia, berikut referensi yang bisa dikunjungi : Suku Melayu, Serumpun dan Malaysia Bukan Bangsa Serumpun.

Comments